Ini Penyebab Lo Stres — Lo Sibuk Mikirin Hal yang Nggak Bisa Lo Kendalikan.

ini penyebab lo stres — lo sibuk mikirin hal yang nggak bisa lo kendalikan​

Ini Penyebab Lo Stres — Lo Sibuk Mikirin Hal yang Nggak Bisa Lo Kendalikan

Banyak orang merasa hidupnya berat setiap hari. Pikiran terasa penuh bahkan sejak bangun tidur. Sedikit masalah langsung membuat kepala panas dan hati gelisah. Padahal sering kali, sumber stres terbesar bukan berasal dari kenyataan itu sendiri.

Penyebab utama stres sering datang dari kebiasaan memikirkan hal-hal yang berada di luar kendali kita. Kita sibuk memikirkan masa lalu yang tidak bisa diubah. Kita juga sibuk memikirkan opini orang lain yang tidak bisa diatur. Akibatnya, energi mental habis untuk sesuatu yang sebenarnya tidak bisa diselesaikan dengan dipikirkan terus-menerus.

Cuaca tidak bisa lo atur. Hujan tetap turun meski lo marah. Matahari tetap terbit meski suasana hati lo buruk. Namun banyak orang membiarkan hal-hal kecil seperti ini merusak seluruh harinya.

Hal yang sama terjadi dalam kehidupan sosial. Lo tidak bisa mengontrol bagaimana orang lain menilai lo. Akan selalu ada orang yang salah paham, meremehkan, atau mengkritik. Kalau hidup lo terus bergantung pada validasi orang lain, pikiran lo tidak akan pernah benar-benar tenang.

Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan dengan konsep locus of control. Julian B. Rotter menjelaskan bahwa orang yang terlalu fokus pada faktor eksternal cenderung lebih mudah stres. Mereka merasa hidupnya ditentukan keadaan luar. Akibatnya, mereka lebih rentan merasa cemas dan tidak berdaya.

Sebaliknya, orang yang fokus pada apa yang bisa dikendalikan biasanya lebih stabil secara mental. Mereka sadar bahwa dunia tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Namun mereka tetap bisa mengontrol sikap dan respons mereka sendiri. Fokus seperti ini membuat hidup terasa lebih ringan.

Sayangnya, banyak orang menghabiskan waktunya untuk melawan kenyataan. Mereka marah pada masa lalu. Mereka kecewa pada keadaan yang sudah terjadi. Padahal masa lalu tidak pernah bisa diubah meski dipikirkan ribuan kali.

Memikirkan kesalahan masa lalu secara terus-menerus hanya akan menciptakan rasa bersalah yang tidak sehat. Dalam psikologi, pola ini disebut rumination. Menurut American Psychological Association, rumination dapat meningkatkan stres, kecemasan, bahkan depresi. Pikiran yang terus berputar tanpa solusi hanya akan melelahkan mental.

Ironisnya, manusia sering lebih sibuk memikirkan hal yang tidak bisa dikendalikan daripada memperbaiki hal yang bisa dilakukan hari ini. Kita sibuk memikirkan kemungkinan gagal, tetapi lupa belajar. Kita sibuk takut ditolak, tetapi tidak pernah mencoba. Pikiran akhirnya menjadi penjara yang menghambat tindakan.

Filsafat Stoik sudah lama mengajarkan pentingnya membedakan apa yang bisa dan tidak bisa dikendalikan. Epictetus mengatakan bahwa kebebasan dimulai ketika manusia fokus pada dirinya sendiri, bukan pada dunia luar. Filosofi ini sederhana tetapi sangat dalam. Banyak ketenangan hidup sebenarnya muncul dari kemampuan menerima kenyataan.

Menerima bukan berarti menyerah. Menerima berarti memahami bahwa ada hal-hal yang memang berada di luar kuasa kita. Ketika seseorang menerima hal itu, pikirannya tidak lagi sibuk melawan kenyataan. Energi mentalnya bisa dipakai untuk sesuatu yang lebih berguna.

Contohnya sederhana. Lo tidak bisa mengontrol apakah seseorang akan menyukai lo atau tidak. Namun lo bisa mengontrol bagaimana cara lo memperlakukan orang lain. Lo juga bisa mengontrol bagaimana cara lo memperbaiki diri setiap hari.

Lo juga tidak bisa mengontrol masa depan sepenuhnya. Tidak ada manusia yang tahu apa yang akan terjadi besok. Namun lo masih bisa mengontrol usaha yang lo lakukan hari ini. Dan sering kali, itu sudah cukup.

Masalahnya, media sosial membuat banyak orang semakin sulit menerima kenyataan hidup. Kita melihat kehidupan orang lain yang terlihat sempurna. Kita mulai membandingkan diri sendiri secara terus-menerus. Akibatnya, kita merasa hidup kita kurang dan tidak cukup baik.

Padahal sebagian besar yang terlihat di internet hanyalah potongan kecil kehidupan. Tidak semua yang terlihat bahagia benar-benar bahagia. Tidak semua yang terlihat sukses hidup tanpa masalah. Ketika seseorang terlalu banyak membandingkan diri, pikirannya akan semakin lelah.

Orang yang hidupnya lebih tenang biasanya punya satu kesamaan. Mereka tidak terlalu sibuk mengontrol dunia luar. Mereka lebih fokus mengontrol pikiran dan tindakan mereka sendiri. Mereka sadar bahwa ketenangan bukan datang dari dunia yang sempurna, tetapi dari mental yang stabil.

Dalam praktik mindfulness, seseorang diajarkan untuk hadir di momen sekarang. Bukan hidup di masa lalu atau tenggelam dalam ketakutan masa depan. Menurut Harvard Medical School, mindfulness dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kemampuan mengelola emosi. Ini menunjukkan bahwa ketenangan bisa dilatih.

Kadang hidup terasa berat bukan karena bebannya terlalu besar. Hidup terasa berat karena kita membawa terlalu banyak hal yang sebenarnya tidak perlu dibawa. Kita membawa penyesalan lama. Kita membawa opini orang lain. Kita membawa ketakutan yang belum tentu terjadi.

Padahal tidak semua hal harus dipikirkan terus-menerus. Tidak semua hal harus dikontrol. Ada saatnya seseorang perlu melepaskan agar hidupnya lebih ringan. Karena semakin lo mencoba menggenggam semuanya, semakin lelah juga pikiran lo.

Melepaskan bukan berarti tidak peduli. Melepaskan berarti tahu batas kemampuan diri sendiri. Lo berhenti memaksa dunia mengikuti keinginan lo. Lo mulai menerima bahwa hidup memang penuh ketidakpastian.

Dan anehnya, justru saat seseorang berhenti mencoba mengontrol semuanya, ia mulai merasa lebih damai. Tidurnya lebih nyenyak. Pikirannya lebih ringan. Hidupnya tidak lagi dipenuhi kecemasan berlebihan.

Pada akhirnya, stres sering datang bukan karena hidup terlalu berat. Stres muncul karena kita sibuk memikirkan hal-hal yang tidak bisa kita ubah. Kita menghabiskan energi mental untuk sesuatu yang di luar wilayah kita. Padahal hidup akan jauh lebih tenang jika kita belajar fokus pada apa yang benar-benar bisa dikendalikan.

Jadi kalau ada hal yang memang di luar kendali lo, lepaskan. Tidak semua hal harus lo pikirkan terus. Tidak semua masalah harus lo bawa setiap hari. Karena ketika lo mulai melepaskan, hidup lo perlahan akan terasa lebih ringan.

– Kasim –

Referensi (MLA Style)

Epictetus. Enchiridion. Translated by Elizabeth Carter, Dover Publications, 2004.

Rotter, Julian B. “Generalized Expectancies for Internal versus External Control of Reinforcement.” Psychological Monographs, vol. 80, no. 1, 1966.

American Psychological Association. “Rumination and Emotional Stress.” American Psychological Association, www.apa.org.

Harvard Medical School. “Mindfulness Meditation and Stress Reduction.” Harvard Health Publishing, www.health.harvard.edu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *